Different
100%
– Can You Change? –
Cast :
❤ Kim Dahyun
❤ Cha Eunwoo
Poster By : Baby Ce`Caramel
A/N :
– Can You Change? –
Cast :
❤ Kim Dahyun
❤ Cha Eunwoo
Poster By : Baby Ce`Caramel
A/N :

Seorang gadis menatap datar gerbang yang menjulang tinggi yang sekarang ada di hadapannya. Dia menghela nafas, bola matanya berputar. “Baru jam segini, gerbang sudah di tutup. Mau kepala sekolah itu apa sih, kenapa masih jam 8 sudah di tutup” gumam gadis itu.
Tak lama dia berdiri di depan gerbang sekolahnya, seorang pemuda menghampirinya. Pemuda itu berdiri tepat di hadapan gadis itu, jika tak ada pembatas gerbang itu.
Pemuda itu mengangkat alisnya satu. “Telat lagi?” Tanya pemuda itu malas.
“Kau lihat?” jawab gadis itu juga malas, mata gadis itu bergerak menatap kearah lain karena malas melihat pemuda itu.
Pemuda itu menghela nafas, lama-lama dia menjadi geram sendiri dengan sikap gadis itu. Di Tanya baik-baik, gadis itu malah menanya dia balik. “Jika besok kau telat lagi, aku tidak akan mempersilahkanmu masuk lagi” ancam pemuda itu. Pemuda itu pun bergerak membuka gerbang itu dengan kunci yang ada di kantongnya.
Mendengar ancaman itu, mata gadis itu membesar menatap pemuda itu yang sibuk membuka gerbang.
“Hell! Terserahku, aku mau telat atau tidak itu bukan urusanmu” ujar gadis itu dengan nada mengeras.
Selesai gerbang itu terbuka, pemuda itu menatap gadis itu intens. “Memang bukan urusanku, tapi karena kau telat, aku sebagai ketua kelas terkena imbasnya” ujar pemuda itu dingin.
Setelah mengatakan itu, pemuda itu pergi meninggalkan gadis itu yang semakin kesal dengan kelakuan pemuda itu. “Rrr.. awas saja kau” geram gadis itu seraya menghentakkan kakinya beberapa kali.
***
“Namanya Dahyun, setiap hari dia telat datang ke sekolah dan alasannya selalu karena di jalan macet. Kelakuannya nol besar. Rambutnya hampir setiap bulan berganti warna begitupun kaos kakinya yang terkadang suka berwarna-warni, roknya yang terlalu pendek, dan satu lagi dia sering membully teman sekelasnya.” Jelas ketua kelas XII B.
Nayeon, selaku wali kelas XII B hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali seraya membaca artikel data mengenai salah satu siswanya yang memiliki kenakalan luar biasa. Dan yang lebih parahnya siswanya itu seorang gadis.
“Lalu dimana dia sekarang?” Tanya Nayeon mendongak menatap seseorang yang di percayainya di kelasnya.
“Di kelas bu, saya sudah mempersilahkannya masuk” jawab ketua kelas itu.
Nayeon tersenyum bangga. “Eunwoo, bisakah saya minta tolong padamu?”
Pemuda yang bernama Eunwoo itu, sudah mengerti arti tolong itu. “Bisa bu?” sebenarnya dia malas menjawab bisa, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkinkan dia menolak permintaan wali kelasnya itu.
“Saya ingin kau memperhatikan Dahyun, kalau bisa saya ingin kau megubah sifatnya yang sudah kelewatan itu” mohon Nayeon pada Eunwoo.
“Saya tidak janji bu” jawab Eunwoo langsung.
“Ah.. Yasudahlah, kalau kau tidak bisa. Kau bisa masuk ke dalam kelas” lanjut Nayeon seraya tersenyum walaupun sebenarnya dia sedikit kecewa dengan jawaban Eunwoo.
“Baik bu, saya masuk dulu” Eunwoo berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan wali kelasnya itu.
Setelah kepergian Eunwoo, Nayeon kembali memeriksa data Dahyun. “Bagaimana aku bisa merubahnya, dia sangat nakal sekali” gumam Nayeon.
***
“Hey.. Dahyun kembalikan sepatuku!”
Teriakan dari salah satu gadis di kelas XII B membuat Eunwoo mengalihkan pandangannya mencari suara itu. Setelah ia melihat siapa pelaku yang membuat gadis itu berteriak, Eunwoo menghembuskan nafasnya gusar dan dia kembali sibuk dengan aktivitasnya semula, belajar.
“Ya ampun, tidak usah berteriak juga. Tenang saja, aku dengar apa yang kau katakan” jawab Dahyun santai seraya mengangkat satu sepatu sneakers hitam dengan list putih, tinggi-tinggi.
“Kumohon Dahyun kembalikan, itu pemberian Ayahku” mohon gadis yang sekarang bahan bullyan Dahyun. Gadis itu menundukkan kepalanya, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Sungguh, dia takut sekali jika sudah berhubungan Dahyun. Karena gadis itu sangat nakal sekali. Padahal tadi tak sengaja, sepatunya terlepas karena kebesaran. Tapi dia tidak tahu, kalau Dahyun melihatnya, dan mengambil sepatunya langsung. Dan bahkan sekarang teman sekelasnya yang menatap dirinya, tidak ada yang mau membantu, karena takut terkena masalah dengan Dahyun. Saat ini dia berdoa guru yang mengajar saat ini cepat datang ke kelasnya atau seseorang menolong dirinya dari gadis nakal ini.
“Wow.. enak sekali dirimu, dapat pemberian dari Ayahmu, pasti kau senang bukan” ujar Dahyun dengan suara mengejek.
Sedikit lelah mengangkat sepatu itu, Dahyun perlahan menurunkan tangannya. “Kau mau ini?”
Gadis itu mendongak menatap Dahyun, kemudian mengangguk dengan semangat. Dahyun sedikit terkejut melihat air mata yang sudah turun di gadis itu, tapi buru-buru dia menutup wajah keterkejutannya.
“Tapi ada syaratnya” mana mungkin Dahyun langsung memberikan sepatu itu begitu saja.
“Syaratnya apa?” Tanya gadis itu pelan.
Seketika Dahyun tersenyum sinis. Kemudian matanya melirik Eunwoo, sang ketua kelas yang duduk paling depan dengan posisi membelakangi mereka. Gadis itu mengikuti lirikan Dahyun.
“Katakan perasaanmu sesungguhnya dengan dia” ujar Dahyun kembali menatap gadis itu dengan seringai.
Gadis itu terdiam, matanya membesar. Mendadak tubuhnya menjadi menegang. Astaga, kenapa harus itu persyaratannya. Tidak, dia tidak mau. Bagaimana bisa Dahyun menyuruhnya mengatakan persaannya yang sesungguhnya pada Eunwoo, yang sebenarnya memang dia menyukai pemuda itu dari dulu. Tapi darimana Dahyun tau mengenai itu. Ia kembali menatap Dahyun lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan kuat.
“Apa kau tidak mau sepatumu ini?” ancam Dahyun seraya menunjukkan sepatu itu tepat di wajah gadis itu.
“Aku mau!” jawab gadis itu cepat.
“Bagus! Lagian, apa kau tidak lelah menahan perasaan itu? Kalau aku jadi dirimu, aku akan cepat-cepat menyatakan cintaku padanya lalu harus menjadikan dirinya menjadi milikku seutuhnya” ujar Dahyun seraya melipat tangannya di dada, lalu dia menatap Eunwoo tak lupa seringai gadis itu.
Gadis itu meneguk ludahnya. Ia menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia harus bisa melakukannya. Demi sepatu pemberian ayahnya, mungkin jika dia orang kaya, dia tidak butuh sepatu itu lagi. Tapi sayangnya dia berasal dari keluarga biasa yang hanya memiliki apa adanya.
Perlahan dia mendekat Eunwoo dengan takut-takut. Senyum Dahyun kembali melebar. Teman sekelasnya, kini sudah mulai serius menatap adegan gadis itu.
“H..aaii..” sapa gadis itu terbata-bata. Jantungnya kini berpacu dengan cepat.
Eunwoo yang tadinya asik membaca bukunya, mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang menyapanya, berdiri di dekatnya.
“Ya, ada apa Tzuyu?” Tanya Eunwoo.
Gadis itu, Tzuyu kembali meneguk ludahnya. Dia kembali menatap Dahyun yang tetap berada di posisinya. Dahyun hanya tersenyum sinis, menunggu reaksi Eunwoo nantinya.
Tzuyu kembali menatap Eunwoo. “Aku menyukaimu, apa kau mau jadi pacarku!” dengan cepat ia katakan, hanya satu tarikan nafas.
Terkutuklah gadis nakal itu, sekarang Tzuyu harus menahan malu dirinya. Ia menutup matanya, tak sanggup melihat wajah Eunwoo yang sekarang pasti menatap dirinya ilfeel atau jijik.
Reaksi Eunwoo? Pemuda itu hanya memasang wajah datarnya dan tak mengatakan apa-apa. Dia sudah tau, siapa pelaku dari semuanya ini. Siapa lagi kalau bukan biangnya, Dahyun si gadis nakal. Apa Dahyun tidak berpikir, dirinya pasti sudah mendengar semuanya.
“Ya, aku mau”
3 kata yang keluar dari bibir Eunwoo mampu membuat kelas menjadi sepi dan tak ada yang bersuara. Gadis itu terkejut dengan jawaban Eunwoo. Begitupun Dahyun, dia benar-benar terkejut sekali. Dia mengira Tzuyu akan ditolak mentah-mentah, tapi keadaan malah berbalik. Eunwoo bahkan menerima Tzuyu menjadi pacarnya. Padahal rencananya ingin membuat Eunwoo malu. Tapi? Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini. Bukankah Eunwoo itu pemuda yang tidak pernah berpacaran, jangankan berpacaran dekat dengan gadis aja, Eunwoo tidak pernah terkecuali gadis itu yang mendekati Eunwoo.
Beberapa detik kemudian Dahyun tersadar dengan keterkejutannya. Dia berjalan mendekati Tzuyu, lalu menjatuhkan sepatu Tzuyu di depan kaki gadis itu. Dia menatap Tzuyu, memegang dagu gadis itu kasar, agar menatapnya.
“Wow.. keren sekali dirimu!” ujar Dahyun dengan seringai.
Dahyun melepaskan dagu Tzuyu lalu beralih melipat tangannya di dadanya. “Padahal aku menyuruhmu untuk menyatakan perasaan saja, tapi ternyata kau malah ingin dia jadi pacarmu, keren sekali Tzuyu..” ujar Dahyun dengan nada mengejek saat mengatakan nama gadis itu.
Tzuyu terdiam. Benar juga, yang dikatakan Dahyun. Dahyun hanya menyuruh dia untuk menyatakan perasaan saja, tapi kenapa dia malah menambahkan perkataanya, meminta Eunwoo menjadi pacarnya. Bodoh sekali dia!
Eunwoo tidak tahan dengan perilaku Dahyun. Gadis nakal itu sudah keterlaluan, sudah banyak sekali siswi dibuatnya menangis dan sekarang Tzuyu salah satu bahan bullyan Dahyun sehingga membuatnya menangis.
“Cukup Dahyun!” tegas Eunwoo seraya berdiri.
Dahyun beralih menatap Eunwoo. “Kenapa? Kau tidak suka aku berbicara dengan Tzuyu? Mentang-mentang dia pacar barumu”
“Ikuti aku” Eunwoo tak mendengar ucapan Dahyun, dia malah menarik pergelangan tangan Dahyun dengan kasar, keluar kelasnya.
***
“Hey! Kau mau membawaku kemana”
Dahyun berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman kasar Eunwoo. “Lepaskan aku!” teriak Dahyun sekuat tenaganya melepaskan diri. Tapi apa daya, tenaga Eunwoo lebih kuat diabanding dirinya.
Eunwoo hanya diam, tangannya semakin kuat mencengkram pergelangan Dahyun. Kakinya semakin cepat melangkah, menyeret gadis itu masuk ke dalam gudang sekolahnya.
“Astaga, kenapa kau membawaku kesini” dumel Dahyun menatap sekelilingnya ngeri. Apalagi gudang itu terlihat jorok dan gelap, hanya beberapa cahaya dari celah kecil jendela gudang itu.
Lagi, Eunwoo tak menjawab. Dia malah mengunci gudang itu, yang sempat ia bawa kuncinya masuk dari kenop depan.
“Hey, kenapa kau menguncinya”
Dahyun menatap Eunwoo tajam. “Berikan kuncinya” mintanya seraya menjulurkan tangannya kehadapan Eunwoo.
“Aku tidak mau” balas Eunwoo dingin.
Bukannya marah atau kesal, Dahyun malah tertawa sinis. “Hahaa.. apa kau menyukai ku? Makanya kau melakukan ini? Ya ampun rendah sekali caramu”
Tiba-tiba Eunwoo mendorong tubuh Dahyun dengan keras mengenai dinding, hingga membuat Dahyun meringis. “Aww”
“Apa kau gila!” teriak Dahyun tepat di hadapan Eunwoo. Eunwoo mendekatkan tubuhnya lalu mengurung Dahyun dengan kedua tangannya. Ia menatap Dahyun tajam.
“Berhentilah membully siswa-siswi” ujar Eunwoo dingin.
Dahyun sedikit mendongak menatap Eunwoo. Bahkan dia tidak takut dengan tatapan tajam Eunwoo.
“Sudah ku katakan padamu berapa kali, jangan urusi urusanku” ujar Dahyun tajam.
“Sudah ku katakan padamu berapa kali, jangan suka membully siswa-siswi di sekolah kita” balas Eunwoo tak kalah tajamnya.
“Kenapa? Apa karena kali ini aku membully Tzuyu? Biasanya kau hanya diam saja, tapi karena Tzuyu bahan bully-an ku sekarang, makanya kau bertindak seperti ini?”
“Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak tau, aku diam karena aku lelah memperingatimu tapi sekarang tidak. Kau lihat Tzuyu itu gadis lemah, tapi kau malah membuatnya bertambah lemah. Gadis macam apa kau ini. Kenakalanmu sudah di luar batas”
Ucapan Eunwoo mampu membuat Dahyun marah. Dengan kasar dia mendorong tubuh Eunwoo. “Ku peringati kau, jangan pernah ikut campur urusanku. Ini diriku bukan dirimu. Atur dirimu saja. Aku sendiri muak dengan hidupmu, yang hanya penuh dengan belajar, belajar, dan belajar. Apa kau sudah gila? Duniamu itu sama sekali tidak menyenangkan” ujar Dahyun seraya menunjuk Eunwoo dengan telunjuknya tepat di hadapan pemuda itu.
Dengan kasar Eunwoo menghempaskan jari Dahyun. “Kau tidak sadar dengan hidupmu? Lebih memuakkan hidupmu, yang hanya penuh mengerjai orang-orang di sekitarmu lalu mengimbasnya hingga menangis. Kau tidak pernah di ajari sopan santun dengan orangtua mu? Kenakalanmu luar biasa sekali. Gadis sepertimu sudah seperti gadis-gadis yang ada di club. Dan satu lagi, rambutmu itu membuatku muak, persis seperti gadis di club sana” ujar Eunwoo dengan emosi yang berapi-api. Gadis itu sudah membuat dirinya emosi.
Dahyun terdiam sebentar. Perkataan Eunwoo kali ini mampu menusuk hatinya. Diajari sopan santun dengan orangtua? Dia bahkan berharap orangtuanya dapat mengajarinya sopan santun. Seperti gadis di club? Kenapa Eunwoo mengatakan hal itu, itu mengingatkannya pada seseorang yang disayanginya. Sejujurnya, ingin sekali dia menangis sekarang juga, tapi tidak. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Eunwoo.
“Tutup mulutmu!” teriak Dahyun.
Dahyun mendobrak paksa pintu gudang itu. Dan berhasil pintu itu terbuka dengan keadaan kenop pintunya patah. Mungkin karena gudang itu sudah tua, makanya mudah untuk Dahyun membuka pintu itu.
Dahyun pergi begitu saja meninggalkan Eunwoo. Perasaan sungguh sakit. Kenapa harus terkait dengan orangtuanya? Sungguh, ia benci mendengar kata orangtua. Kedua pahlawannya dulu, bagi dia sudah tiada. Keduanya telah pergi jauh. Yang tertinggal hanya nama untuk dia.
***
Dahyun menatap langit di malam hari. Ia mendudukkan dirinya di rooftop sekolahnya lalu menekukkan kedua kakinya kemudian memeluknya erat. Udara malam memang dingin buatnya hari ini. Tapi dia tidak ingin lemah, hanya karena udara dingin, dia lemah? Tidak sama sekali. Dahyun adalah gadis kuat, dia berani mengambil tantangan apapun itu.
Satu tangannya terangkat keatas, lalu menunjuk satu bintang yang paling bersinar diantaranya. “Oppa.. aku merindukanmu” bisiknya.
“Apa kau tau? Aku benci hari ini. Sungguh, sangat benci” lanjutnya lagi berbicara sendiri.
“Seseorang menyebutku gadis club. Bagaimana ini? Kau tidak ingin menghajarnya?” Air mata Dahyun kini jatuh perlahan mengenai pipinya. Hatinya bertambah sakit mengingat Eunwoo mengatakan dirinya seperti gadis club, hanya perkataan biasa tapi bisa menusuk hatinya.
“Lalu dia mengatakan aku tidak pernah diajari sopan santun. Walaupun kenyataannya memang benar. Tapi dia menyebut orangtua… aku benci oppa”
Dahyun terdiam beberapa menit. Ia menahan air matanya yang akan keluar lagi. Dengan kasar dia menghapus air matanya. Kemudian dia kembali mendongak menatap bintang itu.
“Oppa.. jika aku bisa menemukan gadis itu, aku janji, aku akan membalas perbuatannya. Bahkan sampai membunuhnya juga tidak apa-apa. Asal aku bisa mengganti balas dendammu” janji Dahyun.
Dahyun kini membaringkan dirinya, dingin langsung menyambutnya. Tapi ia tidak peduli. Ia ingin berlama-lama disini. Dengan berharap Jaebum, Oppa-nya berada di di sisinya sekarang.
***
Seperti tidak terjadi apa-apa, Dahyun mengabaikan Eunwoo. Dia tetap berjalan ke tempat duduknya. Seperti biasa, kerjaannya jika sudah sampai di sekolah adalah tidur, sebelum bel berbunyi menandakan pelajaran pertama dimulai.
Sedangkan Eunwoo, seperti biasa pemuda itu pagi-pagi saja sudah memegang bukunya. Apalagi kalau tidak belajar.
“Eunwoo”
Sebuah panggilan mengusik Eunwoo, membuatnya menoleh kearah sumber suara. Dia menatap Moon Bin dengan hanya mengangkat alisnya satu.
Moon Bin menggeser kursinya lebih dekat dengan Eunwoo. “Apa kau sungguh berpacaran dengan Tzuyu?” tanyanya.
Eunwoo kembali membaca bukunya. “Kalau iya, bagaimana?” ujarnya santai.
Spontan mulut Moon Bin terbuka mendengar jawaban Eunwoo. “Benarkah? Ya ampun, ku pikir kemarin kau hanya bermain saja menerimanya”
Eunwoo mengalihkan pandangannya sebentar pada Moon Bin. “Apa aku sejahat itu?”
Moon Bin hanya menggarut kepalanya tidak gatal. “Ku pikir kau hanya bermain saja karena Dahyun”
Eunwoo tidak membalas ucapan Moon Bin lagi karena tiba-tiba saja mendengar nama Dahyun membuatnya menjadi muak. Apalagi bertemu pemiliki nama itu, bisa-bisa dia menjadi emosi sendiri.
“Oh iya, kau tahu, orangtua Dahyun sangat kaya raya sekali” lanjut Moon Bin.
Dan lagi, Eunwoo tidak memperdulikan Moon Bin, karena pemuda itu membahas tentang Dahyun, si gadis nakal.
“Orangtuanya juga salah satu penyumbang terbesar di sekolah ini, makanya Dahyun bisa seenaknya”
“Orangtuanya juga punya perusahaan dimana-mana, bahkan di luar negeri banyak sekali. Sungguh mereka sangat kaya sekali, aku jadi ingin seperti dia. Punya rumah mewah, mobil mewah yang berganti-ganti setiap hati, punya pakaian bagus, punya—“
“Bisakah kau tidak membahas dia?”
Moon Bin terdiam dengan tatapan tajam dan ucapan dingin Eunwoo. “Baiklah, aku hanya memberitahu mu saja” ujar Moon Bin. Akhirnya dia kembali ke tempat semulanya. Sepertinya Eunwoo tidak ingin mendengar nama Dahyun.
Karena Moon Bin, Eunwoo tidak fokus dengan apa yang di bacanya.
***
Pelajaran kali ini olahraga. Pelajaran yang biasanya di senangi para siswa/siswi. Tapi tidak untuk Dahyun. Dia sungguh benci dengan olahraga. Dia benci berlari, seperti saat ini. Dia harus berlari mengelilingi lapangan sekolahnya yang sangat besar, walaupun bukan dia saja, seluruh teman sekelasnya juga ikut. Lihatlah, bahkan dia sekarang di barisan paling belakang. Dia lemah dalam berlari, kakinya terlalu pendek untuk menjangkau. Tidak untuk pemuda yang berlari paling depan yang membuat Dahyun melihatnya saja menjadi kesal sendiri. Eunwoo berlari paling depan, walaupun keringat sudah berlomba turun, tapi tak ada kata letih untuk pemuda itu.
“Astaga, aku lelah sekali”
Dahyun berhenti sejenak. Badanya membungkuk, tangannya menumpuh pada lututnya. Dengan nafas tersengal-sengal dia menatap teman-teman sekelasnya sudah berlari sedikit jauh darinya.
“Mereka makan apa, kenapa pada kuat sekali?” tanya Dahyun pada dirinya sendiri.
“Ya! Dahyun, kenapa kau berhenti”
Ternyata bukan Dahyun yang paling terakhir. Dahyun seperti tidak bisa bersuara lagi, karena sangking lelahnya ditambah lagi nafasnya masih tersengal-sengal. Orang itu Moon Bin.
“Kau lelah?” tanya Moon Bin.
“Kau lihat? Astaga mereka makan apa, kenapa kuat sekali?” ujar Dahyun menatap teman sekelasnya yang sudah berlari jauh darinya. Dia menegakkan tubuhnya kembali.
“Ini baru satu putaran, kenapa kau lemah sekali?” ujar Moon Bin menatap remeh Dahyun.
Dahyun menatap Moon Bin tajam karena mengatakan dirinya lemah. “Apa kau bilang!” dengan cepat ia menginjak kaki Moon Bin kuat.
“Aww! Sakit” jerit Moon Bin.
“Makanya jangan mengataiku lemah, kau sendiri mau menangis hanya karena injakan pelan ini” ujar Dahyun lalu kembali berlari meninggalkan Dahyun.
Moon Bin memegang kakinya yang disakiti Dahyun tadi. “sshh.. apa katanya, ini injakan pelan? Ini sakit sekali, bagaimana bisa dikatakan pelan. Dia seorang namja atau yeouja sih, tenaganya kuat sekali”
Tapi sesaat kemudian Moon Bin tersenyum menatap Dahyun yang berlari sendirian. “Aku akan menjaganya, tenang saja Hyung” batinya.
***
Dahyun menyipitkan matanya. Matanya menangkap seorang pemuda menghampiri seorang gadis, lalu pemdua itu memberikan minuman pada gadis itu. Ujung bibir Dahyun tertarik menjadi senyum sinis.
“Berkat ku mereka menjadi dekat. Seharusnya gadis itu berterimakasih padaku”
Pemuda dan gadis itu adalah Eunwoo dan Tzuyu. Semenjak pengakuan Tzuyu kemarin, Eunwoo mulai terbuka dan terang-terangan seperti menunjukkan rasa sukanya pada Tzuyu.
“Kau tidak ingin?” sebuah minuman soda menjulur dihadapannya.
“Siapa yang tidak ingin!” ambil Dahyun langsung dari tangan Moon Bin.
“Kau sedang melihat mereka?” tanya Moon Bin sambil membuka soda itu lalu meminumnya.
“Tidak sengaja” jawab Dahyun seraya meminum sodahnya.
“Kau menyukainya?”
“Uhuukk”
Petanyaan itu membuat Dahyun tiba-tiba saja terbatuk. Soda itu mendadak masuk kedalam hidung Dahyun, dan rasanya sakit sekali. “Aahh!” teriak Dahyun.
Dahyun meletakkan sodanya, lalu menggerakkan hidungnya kekanan dan kiri dengan tangannya.
“Gwenchana?” tanya Moon Bin cemas.
“Kau mau membuatku mati?” jerit Dahyun lalu memukul Moon Bin beberapa kali.
“sshh.. sakit sakit—“
Akhirnya Dahyun berhenti memukul Moon Bin. Dia kembali beralih memegang hidungnya, setidaknya hidungnya sudah membaik tidak seperti tadi.
“Ya! Aku hanya bertanya, kau menyukainya ya!” teriak Moon Bin.
Dan ternyata teriakan Moon Bin terdengar kedua pasangan itu. Dahyun menatap Moon Bin tajam, kemudian dia menginjak kaki Moon Bin kembali. Kali ini dengan keras. “T-I-D-A-K!” ejanya dengan keras.
Dahyun pergi begitu saja meninggalkan Moon Bin.
Eunwoo menghampiri Moon Bin yang saat ini sudah kesakitan. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Tidak sama sekali. Aku hampir mau mati rasanya, tenaganya kuat sekali” ringis Moon Bin membungkuk memegang kakinya.
“Astaga, pasti sakit sekali ya. Apa mau ku obati?” kali ini Tzuyu bersuara.
“Ah tidak usah, merepotkan saja” tolak Moon Bin.
“Biarkan saja Tzuyu mengobatinya” ujar Eunwoo.
“Tidak, tidak. Aku ingin menghampiri Dahyun”
“Untuk apa? Kau ingin di lukai lagi?” cegah Eunwoo.
“Ya tidaklah. Aku hanya ingin menemaninya” ujar Moon Bin.
Saat Moon Bin sudah berbalik. Eunwoo kembali bersuara, dan berhasil menghentikan Moon Bin. “Apa kau menyukainya?”
Moon Bin kembali berbalik menatap Eunwoo. “Tidak, aku hanya diutus untuk selalu menjaganya” jawab Moon Bin mantap. Kemudian dia pergi menemui Dahyun, si gadis kesepian baginya.
Eunwoo tidak mengerti ucapan Moon Bin, memangnya Moon Bin pengawal Dahyun? Dia hanya menatap kepergian Moon Bin. “Mungkin dia memang menyukai Dahyun” ujar Tzuyu yang berdiri di samping Eunwoo.
Eunwoo melirik Tzuyu sebentar. “Ntahlah”
***
“Mau apa lagi dia?” geram Eunwoo.
Matanya setia memperhatikan gerak-gerik Dahyun yang saat ini sedang mendekati Jihyo, salah satu siswi cupu di kelasnya. Ia yakin Dahyun mulai beraksi, seperti biasa membully.
Dahyun bergerak mendekati Jihyo, si gadis cupu yang memakai kacamata. “Kau punya makanan?” tanya Dahyun pada Jihyo seraya duduk di meja gadis itu.
“Ti—“
“Aku ingin makan! Berikan aku makanan sekarang juga, aku tidak ingin mendengar kata ‘tidak’” Bentak Dahyun.
Eunwoo melihat itu, mendekati Dahyun. “Ikuti aku, kau akan mendapatkan makanan juga”
Dan lagi, Eunwoo menarik paksa pergelangan tangan Dahyun tiba-tiba. Dahyun tidak melawan, dia membiarkan Eunwoo membawanya, karena jika dia melawan, bisa saja pemuda itu membuat bekas merah di pergelangan tangannya seperti kemarin.
***
Dahyun menghembuskan nafasnya kasar, dia melipat tangannya ke dadanya. Untuk apa Eunwoo membawanya ke taman sekolah? Kenapa tidak gudang saja, seperti kemarin. Apa Eunwoo mau menyatakan cintanya pada dirinya, cih tentu saja dia akan menolah pemuda itu mentah-mentah. Siapa yang mau berpacaran dengan pemuda yang cintanya hanya dengan buku saja. Hell! Tentu saja dia enggan dan dia juga tidak mau punya pacar seperti Eunwoo, pemuda yang sok dingin dan memiliki kata-kata yang pedas.
“Apa lihat-lihat?!”
Dahyun menatap tajam Eunwoo, yang saat ini sedang menatapnya dengan intens.
“Salah melihatmu?” tanya Eunwoo seraya mengangkat alisnya satu.
Dahyun terdiam, matanya melirik Eunwoo sinis. Sedangkan Eunwoo malah menatapnya dengan lekat, kemudian ia menghela nafas panjang.
“Apa kau tak capek berbuat onar?” lanjut Eunwoo.
“Tidak! Karena ini adalah hak ku!”
“Kalau begitu apa perlu aku menciummu dulu, baru kau berhenti berbuat onar?”
Dahyun melotot dan siap mengeluarkan caciannya pada makhluk yang menyebalkan, yang sekarang ada dihadapannya.
“Das—“
***
TBC...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar